SINDO-NTT.COM – ROTE NDAO
Pada ruang yang lebih luas, Alfamart sebagai bagian dari lokomotif ekonomi nasional tentu mempunyai peran penting dalam gerak roda perekonomian, namun hal itu secara parsial, tidak secara serta-merta berkontribusi terhadap perekonomian lokal
Ketua Komisi B DPRD Rote Ndao yang dengan tegas menolak kehadiran Alfamart di bumi sejuta lontar mengakui dalam pandanganyq mengambil posisi untuk menolak
“Menolak tidak dalam posisi yang absolut, Ada relativitas bagi ruang negosiasi yang berpihak pada kebutuhan rakyat dan Usaha Mikro Kecil (UMK),” Kata Deni Moy Kepada wartawan, Minggu (19/05/2024)
Deni Moy mengakui kalau Kehadiran Alfamart di Rote Ndao hanya mengambil uang rakyat, setelah transaksi uang dari rakyat itu dibawa ke Jakarka
“Ada hal yang sebenarnya harus dipahami oleh kita semua bahwasanya Alfamart adalah sebuah entitias ekonomi Eksratif yang hanya mengambil bagian dalam konsumsi masyarakat, Sederhananya, Alfamart hanya mengumpulkan uang rakyat setelah transaksi, lalu membawa uang tersebut ke Jakarta,” Ujar Deni Moy
Melihat dari tujuan Alfanart tersebut Deni Moy merasa prihatin dengan UMKM lokal di Kabupaten Rote Ndao
“Jika demikian halnya, bagaimana dengan UMK lokal? ‘UMK lokal selain menjual barang-barang pabrikasi, ada juga barang-barang kerjininan tangan dan industri rumah tangga (jagung goreng, kacang, kue pisang, kue cucur, tenteng dan lain- lain)” Ungkap Deni
Meskipun demikian, Deni Moy mengakui masih ada ruang yang penting untuk di lakukan negosiasikan pada posisi masyarakat, pemerintah, dan UMK lokal dalam setiap aktivitas ekonomi Alfamart di bumi nusa lontar,
“Seperti apa posisi masyarakat dalam entitas ekonomi ini terhadap produk-produk industri rumah tangga (gula semut, kacang goreng, jagung, gula lempeng dll? Produk-produk lokal diatas tentunya sulit dipasarkan di Alfamart karena sepenuh bersertifikat BPOM, Seperti apa kontribusinya kepada pendapatan layanan pemerintah Daerah (PAD dan Perlindungan sosial dan ekonomi lokal)? Produk-produk yang dijual belikan di Alfamart tidak memberikan kontribusi PAD, mungkin PAD yang bisa di mungkinkan hanya dari sektor parkiran, Bagaimana eksistensi UMK lokal dalam ruang ekonomi ini (Partner atau Kompetitor),” Tandasnya
Deni Moy meminta siapakah yang menjamin bahwa semua pertanyaan tersebut telah terjawab? Sedangkan mengabaikan terhadap 3 soal tersebut adalah, sebuah kerugian yang jauh lebih besar yang akan di alami oleh kita, pemerintah, UMK lokal, dan masyarakat.
Dari uraian tersebut, ALFAMART VS SMART, LIORA, KIP MART dan lain-lain, adalah kompetitor, namun bagaimana dengan skala Mikro seperti kios-kios kecil ini?, tanya Deni Moy
“Kios-kios kecil bukanlah kompetitor namun sudah selayaknya sebagai partner, dengan menjadikan kios-kios sebagai Partner Alfamart, kita dapat melakukan transfer knowledge dan sistem merangsang dan menjadikan usaha mikro naik kelas, Apakah hal ini sudah di komunikasikan, atau setidaknya pernah terpikirkan oleh kita para elit dan rakyat dengan pihak Alfamart? Sebagaimana pernyataan Saya pada awal tulisan ini, Saya menolak Alfamart namun tidak dalam kondisi yang absolut, sepanjang UMK seperti kios-kios kecil, produk-produk kerajinan tangan dan industri rumah tangga (gula semut, gula lempeng, kacang dan jagung goreng, tenun ikat dll) dapat diakomodir
Saya tidak dalam ruang kepentingan membela pengusaha-pengusaha siapapun,” Tegas Deni Moy (Nasa)






