SINDO-NTT.COM – ROTE NDAO
Kasian Sekali, Salah seorang warga di Kabupaten Rote Ndao dipaksa bongkar rumah hanya karena beda pilihan politik pada perhelatan pilkada Rote Ndao
Kejadian ini terjadi di wilayah Desa persiapan Menggelama Kecamatan Lobalain. Persisnya di RT 10 RW 4, yang kini masih di Kelurahan Namodale Kecamatan Lobalain
Di mana, Esaul Mbuik (52), bersama keluarganya harus bongkar rumah yang ditempati sejak tahun 2016 pada Senin (05/08/2024)
Esaul dan Heti Ofliana Ramboki, istrinya, bersama tiga orang anaknya harus berpindah tempat tinggal, setelah rumah lamanya dibongkar.
rumah yang ditempati selama 8 tahun itu, berdiri di atas tanah yang bukan miliknya, Melainkan milik salah seorang saudara perempuan dari Esaul, yang bernama Martha Fanggi.
“Itu tanah memang bukan katong pung (milik kami). Tapi mama tua (Martha) sendiri yang kasi ke untuk katong bangun rumah dan tinggal,” jelas Heti, saat ditemui wartawan, Senin (05/08/2024).
Heti mengisahakan, awalnya mereka tidak tinggal di Ba’a. Tapi karena permintaan Martha-lah, dirinya bersama keluarganya pindah dan tinggal di tempat di baa
sebelum punya rumah sendiri, Ofi dan keluarganya sempat tinggal satu atap bersama Martha.
“Dulu katong tinggal di Dengka. Tapi mama tua ini (Martha) yang panggil untuk tinggal di Ba’a. Kebetulan masih saudara dari suami,” ungkap Heti
“Jadi waktu di Ba’a, kami tinggal sama-sama. Baru mulai bikin rumah waktu mama tua pung anak laki-laki nikah. Itu yang kami keluar,” ungkapnya lagi.
“Dan mama tua sendiri yang bilang, bangun rumah di ini tanah, ko sapa lai yang mau bikin rumah di sini,” tandas Heti, dengan dialeknya.
Karena diijinkan, Heti dan suaminya kemudian membangun. Ada Beberapa bahan material layak pakai, juga diberikan Martha, dari material rumah lamanya.
“Sampai waktu mama tua bikin rumah baru, katong dikasih bahan lama untuk bangun di situ. Tapi akhirnya disuruh bongkar makanya katong bongkar,”tegas Heti
“Trus mama tua bilang kalau semua bantuan yang katong terima itu asalnya dari mama Bupati Haning, yang sekarang Lentera, jadi jangan ke mana-mana,” sambungnya.
“Pernah satu waktu mama tua telepon marah-marah. Dia tanya, sapa (siapa) yang kasih masuk nama di tim Ita Esa. Makanya mungkin itu sudah. Karena dia (Martha) mau kalau dia ada di mana (dukung) na katong harus ikut,” tambahnya. (Tim)






