SINDO-NTT.COM – ROTE NDAO
Pacuan Kuda adalah warisan budaya leluhur yang telah dijaga selama berabad-abad
Puji Tuhan, Kabupaten Rote Ndao pun mampu menjaga warisan budaya leluhur sampai pada titik hari ini
Demikian dikatakan Wakil Bupati Rote Ndao Apremoi Dudelusy Dethan di acara Penutupan Lomba Pacuan Kuda Bupati Cup III di Desa Tesabela Kecamatan Pantai Baru, Minggu (01/06/2025)
“pacuan kuda ini terkait dalam
empat visi dan misi pemerintah yakni
Rote Ndao Malole, Rote Ndao berdaya, Rote Harmoni, Rote Ndao bertani yang salah satunya ada di sektor peternakan,” ujar Wakil Bupati Apremoi
Diakui Wakil Bupati Apremoi, kegiatan Pacuan bisa menambah lagi banyak-banyak bibit Kuda atau peternakan kuda di Kabupaten Rote Ndao tercinta
Budaya ini juga sejalan dengan misi misi Bupati dan Wakil Bupati Rote Ndao untuk menciptakan Rote Ndao Harmoni usai pelaksanaan Pelaksanaan Pemilihan Kepala daerah
“Kita semua hadir di sini, tidak ada lagi ada gap-gap setelah pemilu beberapa waktu yang lalu, ini menciptakan kebersamaan yang Indah, Harmoni untuk menyaksikan even budaya yang begitu spesial kurang lebih lima hari,” ungkap Apremoi
“Tadi menurut laporan Panitia, bahwa selama event ini berjalan.
kurang lebih perputaran uang di tempat ini hampir setengah miliar rupiah, Ini sesuatu yang sangat luar biasa,” tandasnya

Sebelumnya, Camat Pantai Baru Micha Manubulu dalam laporan menyampaikan tujuan dilaksanakan dilaksanakan Lomba Pacuan Kuda kali ini adalah mampu melestarikan kesinambungan budaya pacuan kuda sebagai tradisi para pendahulu, Mendorong pengembangan pariwisata dan ekonomi kerakyatan dan Memotivasi para pecinta kuda untuk pengembangan ternak kuda khususnya kuda pacu sehingga mampu berkompetisi di event nasional, Mencari bibit-bibit joki yang berbakat dan turut Mewujudkan Visi dan Misi serta Program Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Rote Ndao melalui 9 agenda perubahan/Mbule Sio/Pule Sia yaitu Rote Ndao Malole, Rote Ndao Berdaya, dan Rote Ndao Harmoni, Rote Ndao Bertani

Dalam meningkatkan nilai ekonomi pada kuda dimana harga jual kuda
di bandrol dengan puluhan juta, bahkan ratusan juta rupiah dan para Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang turut berjualan meraup keuntungan hingga ratusan juta Rupiah
“Kami laporkan omset penghasilan kotor 45 UMKM selama 5 hari perlombaan bahkan 7 hari H-2 sebelum perlombaan dengan rata rata omset sehari mencapai Rp.300 ribu hingga Rp 1.500.000 rupiah per UMKM dan jasa lain dengan total mencapai 340 juta rupiah,” tegas Camat Micha Manubulu (Tim)






