SINDONTT.COM – ROTE NDAO
Upaya pemblokiran jalan menuju PT Bo’a Development dan Destinasi Wisata Bo’a yang dilakukan kelompok pendemo beberapa waktu lalu akhirnya dipatahkan oleh pemilik lahan sendiri.
Pada Jumat (14/11/2025) sekitar pukul 15.00 Wita, para pemilik lahan turun langsung membongkar blokade tanpa menghadapi perlawanan. Menariknya, para pendemo yang sebelumnya gencar memblokir akses justru tidak melawan, terkesan menghindar
Jalan kedua yang dikenal sebagai jalan kontrak, jalur yang biasa digunakan wisatawan dan masyarakat menuju Pantai Bo’a, ditutup menggunakan tumpukan batu lokal oleh kelompok pendemo. Tindakan ini memicu reaksi keras dari tiga pemilik lahan yang merasa hak mereka dihambat oleh aksi sepihak tersebut.
Ketiga pemilik lahan tersebut, Lehor Mbatu, Mateos Mbatu, dan Hermanus Mbatu bersama keluarga kompak mengambil keputusan membongkar blokade demi membuka kembali akses bagi masyarakat dan wisatawan.
Sesuai pantauan wartawan, proses pembongkaran turut disaksikan Babinsa Desa Bo’a, Bhabinkamtibmas, serta anggota Polsek Rote Barat. Kehadiran aparat memastikan kegiatan berlangsung aman dan tertib tanpa gesekan.
Sementara itu, dua koordinator aksi pemblokiran, Hendra Hangge dan Kristian Tarhani, beserta para pendemo lainnya tidak melawan, membuat proses pembongkaran berjalan mulus, seolah para pendemo tak berkutik ketika pemilik lahan turun tangan.
Dengan terbukanya kembali jalan tersebut, akses menuju area PT Bo’a Development dan Pantai Bo’a telah kembali normal.
Namun demikian, perlu dicatat bahwa blokade pada jalan utama (jalan pertama) hingga kini masih belum dibuka, meskipun Penjabat Kepala Desa Bo’a Amelia Nggadas telah melayangkan somasi resmi kepada kedua koordinator pendemo.
Di lokasi jalan, kepada wartawan, Lehor Mbatu menjelaskan tiga dasar utama keputusan dirinya bersama keluarga membuka kembali jalur yang diblokade.
Pertama, pihaknya telah menyampaikan pengaduan resmi kepada Bupati Rote Ndao agar masalah ini tidak dibiarkan berlarut
“Kita akan siap untuk buka dengan dasar pertama, pengaduan yang kami adukan ke Bupati,” ujarnya.
Kedua, pembukaan jalan dilakukan setelah adanya doa bersama dan doa damai yang melibatkan keluarga dan tokoh setempat.
“Yang kedua, doa bersama, doa damai bersama,” lanjutnya.
Ketiga, Lehor mengungkap adanya pengakuan dari koordinator lapangan, Kristian Tarhani, bahwa ia tidak lagi terlibat dalam aksi pemblokiran
“Yang ketiga, pengakuan dari Kristian Tarhani sebagai ketua koordinator lapangan bahwa dia tidak lagi urus. Dia tidak lagi akan ada di sini, mundur dari aksi demo,” tegasnya (tim/nasa)






