Lestarikan Peninggalan Leluhur, Hus Adat Lailete, Para Penunggang Kuda Rebut 4 Bendera

Avatar photo

Sunday, 14 August 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SINDO-NTT.ID – ROTE NDAO
Pagelaran Budaya Foti Hus / Limbe (pacuan kuda) Adat peninggalan leluhur ratusan tahun silam digelar tokoh adat dan masyarakat Leo Ka Siok ( 9 Leo/suku) adat di Eks Nusak Lailete.

Kegiatan Foti Hus atau Limbe (pacuan kuda) oleh para masyarakat adat di gelar sejak Kamis 11 sd Jumat 12 Agustus 2022 di Dusun Nde,o Desa Tasilo Kecamatan Loaholu Kab. Rote Ndao Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Prosesi Foti Hus adat Lailete oleh ke – 9 Leo/ suku setempat digelar selama dua hari. Hari pertama ” Foti limbe Nituk “, hari kedua ” Foti limbe inek” ( kegiatan puncak).

Pada acara puncak Hus (pacuan) oleh para penunggang kuda berlari mengelilingi lapangan pacuan dan berbagai atraksi panjat pinang dan seni budaya seperti Sasando, tarian, kebalai dan Pencat Silat Kampung (Libutu) yang di iringi dengan bunyi pukul gong

Acara puncak Jumat (12/8/2022) dimulai sekitar pukul 10:00 wita dengan berbagai atraksi foti hus dan seni budaya kemudian sekitar pukul 15:00 wita sebagian penunggang kuda menjemput para tokoh adat dan rombongan pasukan kuda yang membawa “Dedeo” (Bendera) untuk diperebutkan memasuki Hus.

Foto : Maneleo Mbauleon Nusak Dengka Gerson Tallo serahkan Salah Satu Dedeo/Bendera kepada Nusak Baa yang diterima oleh Mes Lonak

Kordinator Suku Luna Vando Arkhimes Molle dan Rombongan tiba di Hus adat Lailete 12 08 2022
Pantauan Media ini para pemangku adat dan tokoh adat ke- 9 Leo/suku dijemput di rumah Kordinator Suku Luna Vando Arkhimes Molle dengan iringan pasukan kuda menuju Hus didampingi para kordinator suku, Maneleo dan rombongan.

Setiba di arena Hus mewakili ke-9 suku di Nusak Lailete Kordinator Suku Luna Vando yang didampingi Kordinator suku Mbauleon, Gerson E Tallo, Kordinator Leseleon Marthen Lesik, Wakil ketua dan Anggota DPRD paulus Henuk,SH, Charli Lian dan para Maneleo. Saat penyerahan “Dedeo” Arkhimes Molle mengatakan, Hari ini kita ke – 9 suku di Nusak Lailete menggelar budaya peninggalan leluhur dengan kegiatan Foti Hus sebagai wujud syukur atas berkat dan keberhasilan yang Tuhan anugerahkan kepada kita masyarakat adat.

Baca Juga:  Hampir 9 Bulan Pemutusan Penerbangan Wings Air Kupang Rote, Dimana Visi Pemerintah Tentang Pembangunan Pariwisata

”Lada ledok ia do lole faik ia, Ita koa neu lain ma kio neu poin.
Hu na Lain ma poin sula Hu pasak ma Limbe Leo, Hu pasak Tei boa bula dalan ma Limbe leo nde.o dale ledo enon, Hule neu Lain ma to,e neu poin Hule sodak molek, Koa neu lain fo laa mola nenti nemehena ” ujar Kordinator suku Luna Vando Arkhimes Molle dengan versi bahasa adat setempat.

Keempat Dedeo (Bendera) tersebut adalah Dedeo Limbe Lailete, dedeo Leo Ka Siok, dedeo Nusak dan dedeo umum. Sebut Mes Molle.

Selanjutnya, pelepasan Dedeo oleh Wakil ketua DPRD Kabupaten Rote Ndao Paulus Henuk, SH dan Ketua Perdasi Kab. Rote Ndao Charli Lian.

Keempat Dedeo (Bendera) setelah di kibarkan mengelilingi Hus tiga kali, Dedeo Limbe Lailete diserahkan oleh Kordinator suku Mbauleon Gerson E Tallo ke Nusak Ba,a yang diterima Mesak Lonak.

Bendera Leo Ka Siok diserahkan oleh kordinator Leo Leseleok Marthen Lesik kepada Nusak Ti.i yang diterima oleh Mikael Manu.

Dedeo Nusak Lailete diserahkan oleh Kordinator suku Ello yang diwakili oleh Maneleo Elo, David Ello ke Nusak Keka Talae dan diterima Charli Lian. Sedangkan dedeo umum direbut oleh Bena Adu dari Sunsa – Kec Rote Barat Daya.

kegiatan Foti Hus Lailete di hadiri sekitar 5000an penonton dari berbagai penjuru di Rote, Kupang dan jakarta. Kemudian penunggan kuda dari berbagai wilayah dari beberapa Nusak di Kab. Rote Ndao sekitar 300an ekor kuda.

Hadiri pula, Wakil ketua dan Anggota DPRD Kab. Rote Paulus Henuk,SH, Gustaf Folla,S.Pd. Mesak Z. Lonak, Nur Yusak Ndu Ufi,SE. Mantan Anggota DPRD Mikael Manu, para tokoh Adat, Maneleo dan Masyarakat.

Kordinator Suku Luna Vando Arkhimes Molle,SH,MA. Kepada Wartawan di lokasi Hus Adat Lailete. Menjelaskan, Hus Adat Lailete di bentuk oleh Leluhur “Leo Ka Siok” (9 suku) Leo Elo, Luna, Vando, Boluk, Tasioe, Todak, Mbauleon, Leseleok dan Leoanak pada ratusan tahun silam.

Baca Juga:  PT Bo'a Development : Ada Akses Jalan ke Destinasi Wisata, Kebersihan Pantai Terjaga

Hus adat Lailete yang dibentuk oleh Leluhur ratusan tahun lalu ini merupakan tempat upacara ritual adat setelah hulu hasil pada bulan Juli sampai Agustus setiap tahun.

Ritual ditempat ini, oleh Leluhur ke-9 suku di eks kerajaan atau Nusak Lailete merupakan wujud mensyukuri anugerah Tuhan atas hasil panen dan upacara penyembahan kepada Leluhur sekaligus meminta perlindungan, keturunan dan dijauhkan dari berbagai bala, penyakit dan sumber air atau hujan yang melimpah untuk musim tanam ditahun yang akan datang.

Selain itu menjadi tempat pertemuan untuk mempersatukan semua kaum kerabat dan keluarga Nusak Lailete dari berbagai tempat yang ditandai dengan Foti Hus / Limbe (pacuan kuda) dan berbagai atraksi seni budaya.

Kegiatan Ritual di dalam Hus adat Lailete pada ratusan tahun lalu pelaksanaannya diawali dengan “Bamba Ofu” dari ke-9 Leo secara berturut turut dan sesuai jadwalkan yang ditetapkan oleh “Mane Helo”

Mane Helo bertugas sebagai penutur silsila keturunan ke -9 suku secara turun temurun. Kegiatan Bamba ofu berlangsung selama kurang lebih satu bulan sebelum puncak pelaksanaan Hus. Tugas ini ada pada suku Elo.

Selanjutnya, Ume Lilo dan Hanasaih, tempat upacara ritual adat untuk memohon berkat hujan, hasil pertanian, peternakan dan laut berserta isinya. Tugas ini ada pada suku Luna Vando oleh Mane Lilo, yang digelar pada “Limbe Nituk” dan “Limbe Inek” (Hari pertama dan siang hari puncak kegiatan Hus).

Kemudian Ume No, yang dipimpin oleh Mane No. Tugas ini ada pada Suku Tasioe. Mane No bertugas memberi dan memberkati seluruh hasil panen. Upacara ritual ini dilaksanakan dengan membagi kelapa kepada seluruh pemimpin marga dari ke-9 suku.

Dilaksanakan oleh Mane No pada sore hari di tengah lapangan Foti Limbe diikuti para “Mane nitu” ( pemimpin Marga/Manasonggo ) dari setiap suku dengan masing masing menerima satu buah kelapa.

Baca Juga:  Dari Bahasa Inggris hingga Praktik Kerja, RHA Siapkan SDM Hospitality Profesional di NIHI Rote

Kelapa diterima oleh Mane Nituk untuk dibawah pulang dan airnya dipercik pada seluruh hasil panen yang peroeh dalam tahun tersebut agar terhindar dari berbagai hal hal yang tidak dinginkan.

Selanjutnya menurut Mes Molle, pelaksanaan ritual Hus adat Lailete sangat magic dan berkonsekuensi dalam setiap tahapan sementara para pemangku kewenangan tersebut sudah tiada sehingga sudah dua puluhan tahun tidak dilaksananakan seperti semula walaupun setiap tahun digelar.

Untuk itu tahun ini kami para tokoh adat dan masyarakat dari ke 9 suku berkeingin untuk tetap melestarikan nilai buaya Hus adat Lailete dan mempertahankan nilai histori peninggalan leluhur ini maka kami menggelarnya dengan versi baru namun tidak menggunakan tahapan magicnya yang bersentuhan dengan ritual bernuansa penyembahan secara animisme tetapi dalam pelaksanaannya tidak menghilangkan keunikan nilai budayanya.

Selain itu rencanya tahun depan kami akan gelar Hus adat ini sekaligus menghidupkan kembali “Hanasaih” dan “Ume lilo” karena Hus Adat Lailete adalah satu satunya Hus asli peninggan leluher yang ada di wilayah Kabupaten Rote Ndao – NTT dan bahkan di Indonesia.

Tujuan pelestarian sumber potensi budaya ini diharapkan kedepan menambah pundi pundi pendapatan asli daerah pada sektor Pariwisata dan memberi konstribusi ekonomi bagi masyarakat adat wilayah setempat. Jelasnya.

Akhirnya, Kordinator Suku Luna Vando dan seluruh tokoh adat bersama masyarakat dari ke-9 suku di Nusak Lailete berterima kasih kepada pemerintah daerah melalui Bupati dan Wakil Bupati Paulina Haning Bullu,SE dan Stef M. Saek,SE.M.Si atas dukungannya sekaligus telah membuka pelaksanaan Hus Adat Lailete secara resmi pada 11 Agustus 2022 kemarin.

”Tentunya kami berharap aset daerah ini kedepan mendapat perhatian dan dukungan pemerintaj daerah untuk ditatah dan dikelolah menjadi lebih baik ” Ujarnya. (PE)

Berita Terkait

Dari Bahasa Inggris hingga Praktik Kerja, RHA Siapkan SDM Hospitality Profesional di NIHI Rote
Kesempatan Beasiswa Penuh RHA Dibuka Lebih Lama untuk Generasi Muda Rote Ndao di NIHI Rote
RHA Bukan Sekadar Sekolah Hospitality, Tapi Gerbang Masa Depan Anak Muda Rote Ndao
Kesempatan Emas, RHA Siapkan Kuliah Gratis Perhotelan, Silahkan Daftar
Nihi Rote Bersinar di Bali, Destinasi Mewah Berbalut Kearifan Lokal, Dilirik Peselancar
DPR RI Titiek Soeharto Teken Prasasti Soft Opening Nihi Rote di Pulau Rote, Pariwisata Kelas Dunia Hadir
Soft Opening Nihi Rote : Investasi Pariwisata, Bangkitkan Harapan Ekonomi Pulau Rote
Ekonomi Nelayan, Bupati Dampingi DPR RI Viktor Laiskodat, Tinjau Laboratorium Rumput Laut di Rote Barat
Tag :

Berita Terkait

Sunday, 24 May 2026 - 15:02

Dari Bahasa Inggris hingga Praktik Kerja, RHA Siapkan SDM Hospitality Profesional di NIHI Rote

Sunday, 24 May 2026 - 14:53

Kesempatan Beasiswa Penuh RHA Dibuka Lebih Lama untuk Generasi Muda Rote Ndao di NIHI Rote

Thursday, 7 May 2026 - 20:26

RHA Bukan Sekadar Sekolah Hospitality, Tapi Gerbang Masa Depan Anak Muda Rote Ndao

Tuesday, 5 May 2026 - 11:09

Kesempatan Emas, RHA Siapkan Kuliah Gratis Perhotelan, Silahkan Daftar

Tuesday, 28 April 2026 - 16:40

Nihi Rote Bersinar di Bali, Destinasi Mewah Berbalut Kearifan Lokal, Dilirik Peselancar

Thursday, 23 April 2026 - 11:53

DPR RI Titiek Soeharto Teken Prasasti Soft Opening Nihi Rote di Pulau Rote, Pariwisata Kelas Dunia Hadir

Tuesday, 21 April 2026 - 23:18

Soft Opening Nihi Rote : Investasi Pariwisata, Bangkitkan Harapan Ekonomi Pulau Rote

Saturday, 11 April 2026 - 07:09

Ekonomi Nelayan, Bupati Dampingi DPR RI Viktor Laiskodat, Tinjau Laboratorium Rumput Laut di Rote Barat

Berita Terbaru