SINDONTT.COM – ROTE NDAO
Pernyataan Direktur terpilih Perusahaan Daerah Ita Esa Kabupaten Rote Ndao, Charles Pelle, menuai sorotan tajam dari kalangan pelaku usaha
Target peningkatan pendapatan hingga 50 persen dan kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) minimal 30 persen dinilai membingungkan, bahkan terkesan terlalu muluk untuk sebuah BUMD yang saat ini mati suri
Pemilik Toko Petra, Bruce King Nitte, secara terbuka mengaku bingung dengan pernyataan tersebut
“Pernyataan Dirut Ita Esa bikin kita bingung. Pendapatan lebih dari 50 persen, sonde tau penyertaan modal berapa? Katong yang pebisnis ju bingung baca ini berita,” ujar Bruce kepada wartawan, Selasa (24/2/2026)
Bruce mempertanyakan dasar perhitungan yang digunakan dalam menetapkan target ambisius tersebut
Menurutnya, sebelum berbicara lonjakan pendapatan dan PAD, publik berhak mengetahui kondisi riil perusahaan, termasuk besaran penyertaan modal dan status aset
“PAD naik 30 persen? Penyertaan modal berapa? Aset bergerak? Aset diam?” tegas Bruce
Sebagaimana diketahui, usai diumumkan sebagai direktur terpilih PD Ita Esa, Charles Pelle memaparkan sejumlah strategi bisnis kepada wartawan. Ia menargetkan pertumbuhan pendapatan perusahaan hingga 50 persen, menjamin kontribusi PAD meningkat minimal 30 persen, bahkan optimistis target peningkatan PAD sebesar 60 persen dapat tercapai
Rentang angka yang bervariasi—30, 50, hingga 60 persen dalam satu momentum pernyataan itu dinilai sejumlah kalangan sebagai proyeksi yang sangat elastis
Terlebih, PD Ita Esa disebut-sebut sebagai BUMD yang sebelumnya mati suri dan dibekukan, sehingga akan memulai kembali operasionalnya dari titik nol
“Perusahaan yang sudah mati suri dan dibekukan, langsung target pendapatan 50 persen? Mendongkrak PAD 30 persen? Ini perlu penjelasan detail. Jangan sampai publik hanya disuguhi angka-angka tanpa peta jalan yang jelas,” sindir Bruce
Ia berharap Charles Pelle tidak hanya mengumbar optimisme, tetapi juga membuka ruang diskusi dengan pelaku usaha lokal
Bruce bahkan menyatakan kesiapan kalangan pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) untuk membantu merumuskan langkah strategis yang realistis
“Beliau musti banyak diskusi, tukar pikiran dengan kita di APINDO dan HIPMI. Kita siap membantu. Yang penting harus punya business plan yang jelas,” tandasnya
Kini publik menanti, apakah deretan angka optimistis itu akan dibarengi dengan transparansi data, perhitungan matang, dan strategi bisnis yang terukur atau sekadar menjadi janji manis di awal masa jabatan (tim/nasa)






